![]() |
| Pemandangan di Pantai Ranai, Natuna |
Natuna sebuah pulau di bagian utara Indonesia, terletak di perairan Laut Cina Selatan. Berbatasan dengan negara Malaysia, Vietnam dan Kamboja. Natuna terlingkupi dalam wilayah admninistrasi Kabupaten Natuna yang terdiri dari 124 pulau (hanya 30 pulau yang berpenghuni). Kabupaten Natuna terdiri dari beberapa pulau besar antara lain Bunguran, Jemaja, Serasan Subi dan Anambas Ibukotanya terletak di Pulau Bunguran. Untuk bisa menjangkau Natuna, ada dua pilihan transportasi naik pesawat atau kapal laut. Tentu, karena letaknya di tengah laut begitu tak banyak pilihan jika harus pergi kesana.
Getting There..
Saya sendiri pergi kesana menggunakan pesawat terbang dari Jakarta. Ada dua rute yang bisa ditempuh, yakni Jakarta-Batam-Natuna atau melalui Jakarta-Pontianak-Natuna. Jika melalui Batam anda bisa menggunakan maskapai Lion Air/Wings Air, jika melalui Pontianak menggunakan Maskapai Trigana Air. Kedua rute tersebut tidak setiap hari dioperasikan, penumpangnya lumayan ramai loh broo... Denger-denger juga ketika saya singgah di Batam, ada juga yang mengoperasikan pesawat carteran dari Batam. Kedua maskapai sama-sama menggunakan pesawat ATR-700 dengan kapasitas 72 seat (musti hunting bro kalau mau dapat, rebutan soalnya hehehe... ). Harga yang ditawarkan pastinya tidak se-"ramah" rute-rute lain, waktu itu saya dapat dengan harga Rp.800.000,- sekali jalan.
![]() |
| Approaching Natuna |
![]() |
| Salah satu kapal laut di Pelabuhan Natuna |
Bandara Natuna terletak di Pulau Bunguran, pulau terbesar di Kabupaten Natuna. Begitu sampai di Bandara Ranai (NTX) anda tidak akan menjumpai angkutan layaknya di bandara Sukarno Hatta atau bandara besar lainnya. Tapi jangan kuatir, karena banyak juga mobil pribadi yang dijadikan angkutan bagi penumpang. Untuk tarif menuju hotel sekitar Rp 50.000,-. Jika anda berniat menginap beberapa hari cobalah untuk menawar sewa harian, tarifnya sekitar Rp.350.000/hari sudah termasuk BBM dan sopir.
Sight Seeing..
Selama beberapa hari di Natuna saya menginap di hotel (tepatnya penginapan) yang cukup bersih dan ber-AC dengan tarif 150 ribu/malam, namun sayangnya sering mati lampu dan hotel tempat saya menginap tidak mempunyai Genset. Hotelnya tepat menghadap pantai, dan didepannya ada tanah lapang (pada saat itu) banyak warung kopi "remang-remang". Sebenarnya bukan remang-remang, gelap gulita malahan hehehe... Sebutan remang-remang memang tidak jauh dari konotasi negatif keberadaan warung tersebut. Yang terkenal disana dengan sebutan "Kopi Pangku", hehehehe..... Okelah, saya tidak akan membahas lebih jauh tentang istilah pangku, nanti malah kepingin ke Natuna.
Berkeliling kota Ranai tidak sampai menghabiskan waktu banyak. Kota kecil dan tidak terlalu ramai, malah menurut Pemandu (sopir) kami pusat kegiatan ekonomi Natuna berada di Sedanau. Sedanau adalah nama sebuah pulau kecil sebelah barat Pulau Bunguran yang menjadi pusat kegiatan perdagangan hasil laut Natuna.
The Alif Stone Park
Di pulau Bunguran sendiri terdapat beberapa obyek yang dapat kita kunjungi, mostly adalah wisata pantai dan kuliner sea food. Salah satu yang menjadi tempat wisata andalan Natuna adalah Pantai Batu Alif. Batu di area pantai ini luar biasa, besar-besar dan tersusun begitu rupa. Kondisi pantainya masih alami, jauh dari riuh rendah kegiatan beach tourisme layaknya Bali.
![]() |
| "om Hendra" |
Saat berjalan-jalan menikmati Alif Stone, saya berkenalan dengan seorang pria pemilik salah satu rumah di Alif Stone, Beliau memperkenalkan diri sebagai "Om Hendra", dan saya memperkenalkan diri sebagai "Bond, James Bond..." hahahaha (kidding bro). Kami berbicara panjang lebar tentang awal mula beliau bermukim di area Alif Stone, saat itu hanya sebuah pantai yang kotor. Lalu pelan-pelan Om Hendra mulai membersihkan sampah yang berserakan, membangun pelantar (jalan setapak dari kayu), beliau juga membangun Toilet untuk wisatawan (bersih dan airnya berlimpah loh bro..). Hingga saat ini kebersihannya masih terjaga dengan baik dan rapih (you're doing great Om, I'm proud of you). Tak hanya berbincang, beliau juga menawarkan diri untuk singgah di rumahnya. Rumah beliau terlihat sederhana, rumah panggung cukup luas dan bersih. "boleh kalau mau menginap disini" kata beliau. Beliau cukup terbuka dan ramah menyambut siapapun tamu yang berkunjung, dan kadang memang mempersilahkan menginap untuk tamu-tamu tertentu. Dan tau nggak apa yang saya jumpai waktu dirumahnya? Rangka Ikan Paus brooo... hehehe, ga penting ya? Selain menikmati pemandangan alam yang indah, anda juga bisa melakukan snorkling.Masjid Raya Natuna
Natuna adalah kota kecil yang sederhana, namun jangan salah, meskipun kecil Natuna mempunyai masjid sangat megah (damn, lagi-lagi saya lupa nama masjidnya apa). Bangunan masjid mengadopsi gaya arsitektur Go To Sedanau
![]() |
| pelabuhan di Bunguran |
![]() |
| kapal nelayan |
![]() |
| berani ga nyetir mobil kayak gini? |
![]() |
| Selamat datang di Sedanau |
Ok, Nampaknya hari sudah mulai sore. Sesuai perjanjian dengan pemilik kapal, Jam 16.00 kami harus segera kembali ke Bunguran lagi kalau tidak bisa kemaleman di
Dan tentunya sampai juga kita di ujung cerita Visit Natuna, banyak yang ingin diceritakan namun saya takut anda bosan mendengar cerita saya.
Ok, Have a Great day Everybody...











4 komentar:
ane tinggal di ranai natuna bro,, oh ya nama masjid nya bukan masjid raya tapi Masjid Agung Natuna bro,,,,,,, kapan kapan ke natuna lagi ya
terima kasih koreksinya agan cybercom. Mudah-mudahan bisa ke natuna lagi (entah kapan, soalnya ongkosnya lumayan :D)
mas pamungkas, tulisan cerita perjalanan ke natuna keren,,,uenak di bacanya. kalau ke natuna lagi kasih tau ya. ntar tak tunjukin lokasi-lokasi yang lebih memukau.
Doh guaner di nung? Cakap cem ke Ganue ker wey?
Posting Komentar